Selasa, 11 Juni 2013

Mengenalkan Permainan Tradisional (Sunda) pada Si Kecil (Bagian 1)

Kaulinan barudak atau permainan anak masa kini tak bisa kita hindari dari hal yang "berbau elektronika", sebut saja iPad atau tablet. Hal tersebut menurut saya tidak apa-apa selama tidak membuat si anak ketergantungan dan bisa mengambil pelajaran dari permainan yang disuguhkan. Terdapat edukasi untuk perkembangan si anak menurut usianya, seperti belajar warna, bentuk bahkan mengenal huruf dan angka.

Tetapi permainan tradisional pun hendaknya dikenalkan di lingkungan anak-anak agar tidak punah dan si anak mengenal permainan tradisional dari daerahnya. Misalnya memadukan permainan lompat tali dengan lagu-lagu daerah. Terdapat dua keuntungan di sana, si anak berolah raga sekaligus berkesenian dengan lagu daerah, sehingga lagu daerah tidak punah, ada yang melestarikan.

Pada jaman dahulu semua anak perempuan bila bulan Ramadhan tiba mereka membeli bola bekel dan juga kewuk atau kerang, (karena bila Ramadhan anak-anak akan merasa cepat kehausan jadi bila bermain kewuk akan menghemat energi dlm menjalankan puasanya). Dan anak laki-laki biasanya bermain kelereng (tidak menghabiskan banyak tenaga seperti bermain boy-boyan atau benteng-bentengan)

Karena saya orang sunda maka di daerah saya ada yang namanya kaulinan anak.
Contoh:
Permainan "Ambil-ambilan" yaitu permainan anak-anak yang di lagukan di dua rombongan atau kelompok yang berjajar berdepan-depanan, cara menyanyinya (ngawih) bergantian seperti "sisindiran", secara terus menerus sampai ada kelompok yang kalah tidak bisa menjawab.

Caranya: anak yang dipilih oleh rombongan dipanggil namanya, anak yang dipilih nanti pindah ke kelompoknya, pindahnya sambil "éngké-éngkéan" dan diteriaki oleh teman2nya yang ditinggalkannya "maling endog"
Yang kalah menerima hukuman dari yang menang
Begini lagunya (kawihna):

-Ambil-ambilan
turuktuk hayam samantu
+ Saha nu diambil
kami mah teu boga incu
- Si Anu kadieu
purah nutu purah ngéjo
purah ngasakan baligo
+ Nyerieun sukuna
kacugak ku kaliagé
- Aya ubarna urat munding campur ragé
tiguling nyocolan dagé.
[1]

Lagu lainnya (Kawih lianna) :

-Ambil-ambilan
turuktuk hayam samantu
+ Saha nu diambil,
kami mah teu boga incu
boga gé anak pahatu
- Pahatu gé daék
purah nutu purah ngéjo
purah ngasakan baligo
+ Nyerieun sukuna
kacugak ku kaliagé
- Aya ubarna urat munding campur ragé
tiguling nyocolan dagé
.

Ada juga "anjang-anjangan" dimana ada yang berperan sebagai ibu, bapa, anak, bermain rumah tanggaan hukumannya bila ada yang tidak bisa melakukan perannya maka "dipoyokan".

Gina Rahmalia Ginandjar (Alumni Forum Indonesia Muda)

Sabtu, 25 Mei 2013

Pendidikan Kebudayaan, Kearifan Lokal, dan Kebudayaan Nasional

Perkembangan teknologi informasi membuka gerbang kepada setiap orang untuk dapat mengenal produk budaya dari manapun. Tidak perlu pergi ke Amerika untuk hanya melihat patung Liberty atau Whitehouse. Tidak perlu ke Eropa hanya untuk melihat menara Eifel di Perancis atau Menara Pisa di Italia. Tidak perlu ke Cina hanya untuk melihat Great Wall atau ke Thailand hanya untuk melihat Angkorwat. Gambar-gambar itu dengan mudah didapat berkat teknologi informasi yang memperpendek dimensi ruang dan waktu.

Orang kemudian beramai-ramai memasarkan produk budayanya. Amerika Serikat membangun Hollywood sebagai sarana memasarkan produk budayanya. Demikian juga India dengan Bollywood. Jepang, Cina, dan Korea pun tidak ketinggalan dengan strategi pemasaran budaya yang relatif sama yaitu serial drama, musik, dan cinema. Semua itu mendukung pemasaran produk-produk mereka seperti alat elektronik, alat rumah tangga, makanan, dan otomotif. Infiltrasi budaya ini mempengaruhi selera masyarakat.

Produk budaya itu kemudian membanjiri media sebagai produk perkembangan teknologi informasi. Hampir tidak ada bagian dunia yang terpapar oleh media tidak mengenal apa itu film Hollywood, Bollywood, atau K-Pop. Masyarakat dunia seperti tersihir dan terdorong untuk meniru gaya artis atau tokoh yang bermain dalam produk budaya tersebut. Tidak heran banyak anak yang ingin mengidentikan dirinya dengan Naruto, Dora, Ipin-Upin, atau Khrisna. Infiltrasi budaya sepertinya adalah bentuk imperialisme modern.

Serbuan budaya asing ini perlahan-lahan menggerus kedekatan masyarakat Indonesia dengan budaya dan kearifan lokal. Anak kemudian lebih asik bermain dengan konsul seperti Playstation, X-Box, PSP, dan sebagainya. Atau gadget seperti komputer jinjing, ponsel, atau tablet. Produk ini menggeser posisi layangan, engrang, kelereng, atau gasing. Serbuan budaya ini juga membuat anak juga lebih mengenal dan menikmati hiphop, rock, beat box, shuffle dance, atau break dance. Di lain sisi, semakin langka anak yang mengenal dan menikmati lagu-lagu serta tarian daerah yang etnik dan khas di setiap daerah.

Hakekatnya bukan sebatas mengenal permainan, lagu, atau tarian daerah tapi meresapi kearifan lokal yang tumbuh selama bertahun-tahun di daerah tersebut. Contoh paling nyata adalah penduduk pulau Simeuleu yang seluruhnya selamat dari bencana tsunami yang memakan ratusan ribu korban jiwa dari Aceh, Thailand, sampai Srilangka. Ternyata penduduk Simeuleu memiliki kearifan lokal untuk pergi ke atas bukit ketika terjadi gempa. Jelas kearifan lokal ini muncul dari keinsyafan penduduk Simeuleu terhadap lingkungan tempat tinggal mereka. Penduduk Simeuleu paham dengan kondisi geografis Indonesia dengan "lingkaran api" dan patahan yang berpotensi gempa juga menyimpan potensi tsunami.

Dari sini saya ingin menyampaikan bahwa pendidikan kebudayaan adalah bekal untuk menyelamatkan bangsa ini. Budaya dan rasa keindahan yang dibangun bertahun-tahun lamanya membawa kearifan bangsa ini untuk bisa bersahabat dengan alam Indonesia yang punya potensi bencana. Dengan mengembangkan kearifan lokal bangsa ini menjadi kebudayaan nasional kita bisa membangun dan menyelamatkan anak-anak kita di masa depan. Bukan hanya menyelamatkan bangsa Indonesia dari bencana alam tapi juga menjadi antitesis permasalahan ekonomi dan sosial yang dihadapi bangsa Indonesia.

Adil Quarta Anggoro (Alumni Forum Indonesia Muda)
Divisi Kerjasama dan Pengembangan Wilayah
Perhimpunan Masyarakat Tolak Pornografi

Menjadikan Anak Aktif, Kreatif, Produktif, dan Bergembira

Anak sehat sering kali sangat aktif. Jika anda pernah mengasuh anak-anak usia dibawah 10 tahun saya yakin ada pernah merasakannya. Ia bisa saja berlari, melompat, dan bermain sepanjang hari tanpa terlihat merasa lelah. Seringkali dalam mengasuh anak kita harus ikut berlari dan bermain bersama mereka. Kadang sampai kita heran, lelah, bosan, dan merasa kesal dengan aktifnya mereka beraktivitas tanpa mengenal lelah. Anak juga bisa asyik sendiri dan melakukannya berulang-ulang ketika memainkan benda sederhana. Itulah dunia anak-anak, dunia petualangan dan imajinasi. Itulah saat mereka bertualang dalam imajinasi mereka.

Imajinasi anak adalah modal yang penting bagi anak-anak. Berbekal imajinasi, anak berkreasi dalam pikiran mereka. Mereka menciptakan benda, tokoh, cerita, gambar, dan berbagai hal di benak mereka. Anak bisa saja berfikir hal yang tidak lazim terjadi lalu membuat karya yang luar biasa, namun tentu itu hanya ada di benak mereka. Imajinasi tersebut adalah modal dasar membuat anak manjadi aktif juga kreatif, produktif, dan tetap bergembira.

Imajinasi ini bisa kita gunakan sebagai landasan untuk menyalurkan kecenderungan anak yang aktif menjadi sebuah karya. Kita bisa ajak mereka bermain menceritakan imajinasi mereka atau menggambar benda-benda yang ada di imajinasi mereka. Ajak mereka merekam saat mereka bermain imajinasi melalui tulisan, gambar atau foto, rekaman video, ataupun rekaman audio. Kenali kecenderungan mereka untuk membuat kreasi dari imajinasi mereka. Biarkan mereka menyaksikan atau mendengar karya mereka lalu motivasi lagi anak untuk membuat lagi.

Pandulah anak mengenal cara untuk membuat karya yang lebih baik. Apresiasi setiap karya mereka lalu beri kritik yang lembut pada bagian-bagian yang perlu diperbaiki. Sesekali kita bisa berikan contoh karya yang baik. Hal ini bisa kita lakukan agar anak mendapatkan referensi hasil karya yang baik. Perlahan-lahan anak akan berkembang menghasilkan karya yang semakin baik. Ulangi sampai anak terbiasa dengan kegiatan ini.

Untuk anak yang semakin dewasa, berikan motivasi dan fasilitas untuk menambah pengetahuan dan pengalaman mereka. Karya anak sangat dipengaruhi oleh pengetahuan dan pengalaman mereka. Semakin banyak pengetahuan dan pengalaman yang mereka dapatkan, mereka akan semakin baik dalam mengekspresikannya karya yang mereka buat. Tentunya jika kegiatan ini terpola dengan baik anak akan terbiasa lalu memproduksi karyanya dengan gembira.

Karya anak bisa juga menjadi sarana mereka dalam berekspresi. Biarkan anak mengidentifikasi perasaanya lalu salurkan emosi itu dalam karya mereka. Pandulah anak dalam menuangkan ekspresi ke dalam karya mereka. Dengan begitu anak akan membiasakan diri untuk menyampaikan pendapatnya dalam bentuk karya kepada anda. Tentu saja respon kita dalam menyikapi ekspresi mereka menjadi penting.

Namun ada hal yang perlu diperhatikan. Pertama, anak cenderung meniru apa yang telah ia lihat atau ia dengar. Anak meniru segala tindakan yang mereka saksikan dan alami. Maka jadilah teladan yang baik. Pengaruh televisi, video dan media lainnya juga menjadi referensi anak untuk beraktivitas. Anak dengan cepat mampu meniru gestur, perkataan, sikap, selera, cara berpakaian, dan tingkah laku objek yang ia lihat. Pastikan juga mereka terhindar dari materi-materi berbahaya seperti kekerasan dan pornografi baik dalam bentuk visual, audio, teks, atau perpaduannya. Libatkan lingkungan sekitar untuk turut berpartisipasi menciptakan lingkungan yang positif bagi anak.

Kedua, jauhkan benda-benda yang berbahaya. Benda tajam, benda keras, undakan yang tinggi, jalan raya, benda beracun bisa melukai dan berbahaya bagi anak. Benda-benda kecil berbahaya yang dapat ditelan anak sebaiknya diawasi dan jangan sampai tertelan oleh anak. Pada lingkungan yang aman bagi anak, kita bisa lebih leluasa melakukan eksplorasi imajinasi anak ke dalam bentuk karya.

Ketiga, beri koreksi dan pemahaman dengan lembut pada tindakan anak yang berbahaya. Anak bisa saja melempar alat gambar dengan keras. Anak juga bisa berkelahi, memukul saat bermain bersama ketika berimajinasi. Cegah dan berilah koreksi untuk tidak lagi mengulangi hal-hal yang berbahaya tersebut.

Setelah menghindari anak dari hal kita bisa lebih tenang untuk mengajak anak berkarya. Mari kita bantu anak kita menjadi generasi yang aktif, kreatif, produktif, dan bergembira.

Adil Quarta Anggoro (Alumni Forum Indonesia Muda)
Divisi Kerjasama dan Pengembangan Wilayah
Perhimpunan Masyarakat Tolak Pornografi

Jumat, 17 Mei 2013

Media dan Anak

Seiring semakin dirasa pentingnya akses informasi, perkembangan teknologi informasi berkembang sangat pesat. Informasi semakin cepat mudah untuk diakses. Berbagai moda komunikasi berkembang untuk berusaha meniadakan batas ruang dan waktu. Keterbatasan komunikasi satu arah pun berkembang menjadi komunikasi dua arah dan semakin interaktif.

Perkembangan teknologi informasi dan perkembangan teknologi transportasi sangat membantu pekerjaan manusia menjadi lebih mudah. Konsekuensinya dinamika kehidupan manusia pun semakin cepat dan dinamis. Pekerjaan yang dulu harus memakan waktu 1 bulan kini mungkin bisa dilakukan dalam 1 pekan, 1 hari, atau malah hanya beberapa menit. Jadwal pekerjaan pun menjadi semakin ketat karena setiap orang semakin mudah mengirim pesan, mendistribusikan dan melaporkan pekerjaan, serta semakin mudah untuk menjawab permintaan. Manusia menjadi semakin sibuk karena ritme pekerjaan yang semakin cepat. Tuntutan kecepatan dan kinerja pun semakin tinggi.

Perkembangan teknologi informasi bukan tanpa resiko. Informasi yang datang begitu cepat dan mudah memang membuat jarak menjadi tidak berarti, namun efek sampingnya justru mengurangi waktu orang untuk berinteraksi secara fisik. Waktu luang untuk orang tua berinteraksi dengan anak pun semakin sedikit. Orang menjadi lebih asik berinteraksi dengan gadgetnya dibanding berkomunikasi dengan orang disebelahnya. Empati dalam komunikasi, ekpresi wajah, dan rasa dalam bentuk komunikasi via gadget pun lebih berkembang dibanding kemampuan komunikasi langsung person to person. Dunia teknologi komunikasi seperti dunia maya yang berbeda dari dunia nyata. Orang yang kuper dalam kehidupan nyata bisa saja berubah begitu komunikatif ketika berkomunikasi di dunia maya.

Anak muda sebagai generasi yang dibesarkan bersama perkembangan teknologi informasi kemudian menjadi lebih intuitif menggunakan media komunikasi. Di sisi lain banyak orang tua yang tidak bisa mengikuti ritme perkemangan teknologi informasi. Kemudian terjadilah gap generation antara anak yang begitu progresif menggunakan media dan gadetnya dengan orang tua konvensional dan terjebak pada paradigma "takut rusak" setiap kali menggunakan gadget.

Tentu saja untuk mengurangi gap generation ini orang tua harus mau belajar menggunakan teknologi informasi. Ada beberapa tips untuk mengurangi gap generation ini.

1. Biasakan mengonsumsi teknologi informasi dengan kritis. Jangan membiasakan mengakses konten media komunikasi dengan pikiran kosong. Biasakan untuk mendiskusikan konten media dalam keluarga. Selain mempererat hubungan keluarga, kebiasaan ini dapat mengurangi dampak buruk media. Contohnya ketika orang tua menemani anaknya menonton film kartun. Beritahu anak adegan film kartun mana yang baik dan mana yang buruk. Pastikan juga anda membekali anak bahwa film yang mereka saksikan adalah rekayasa, bukan adegan nyata. Beri pengertian juga apa yang terjadi bila adegan tersebut dilakukan di dunia nyata.

2. Tempatkan televisi, komputer, dan berbagai media lain di ruang publik. Dengan meletakan alat tersebut di tepat seperti ruang keluarga, anda dapat melihat aktivitas akses anak anda. Hal ini dapat mengurangi resiko anak untuk mengakses konten berbahaya. Anda dapat melarang atau mencegah anak untuk mengakses konten berbahaya dengan cepat.

3. Utamakan menggunakan media untuk kegiatan produktif. Anda dapat menggunakan smartphone anda untuk memproduksi film sederhana dengan skenario sederhana dalam membuat konten pendidikan. Atau anda dapat memilih program televisi pendidikan sebagai pendukung proses belajar. Bisa juga anda dampingi anak anda menggunakan internet untuk memperoleh informasi tentang ilmu pengetahuan atau mempublikasi karya yang telah dibuat oleh anak. Dengan demikian anda dapat mengoptimalkan manfaat media yang anda gunakan. Jangan hanya memposisikan media yang anda konsumsi sebagai hiburan.

Dari tips yang ada tadi ada hal yang perlu diperhatikan. Pertama, jangan terlalu dini membiarkan anak untuk mengonsumsi media, sesuaikan dengan usia perkembangannya. Anak usia dini di bawah 3 tahun, sebaiknya tidak diberikan konsumsi media berupa gambar bergerak. Jika anak dibiasakan melihat gambar bergerak, anak akan cepat bosan untuk melihat objek yang tidak bergerak hingga kemampuan konsentrasi dan fokus terhadap suatu hal akan berkurang.

Kedua, jangan terlalu cepat bangga ketika anak mampu mengoperasikan gadget sementara anda tidak mampu menggunakannya. Anda harus khawatir dengan kemampuan anak anda karena anda tidak bisa mengawasi aktivitas anak. Anda juga tidak mampu mencegah anak untuk tidak mengakses konten berbahaya.

Mari selamatkan anak Indonesia mulai dari keluarga.

Adil Quarta Anggoro (Alumni Forum Indonesia Muda)
Divisi Kerjasama dan Pengembangan Wilayah
Perhimpunan Masyarakat Tolak Pornografi

Senin, 30 Agustus 2010

Amerika Kian Gencar Memerangi Pornografi


Mantan jaksa pornografi di Departemen Kehakiman Amerika Patrick Trueman menyerukan: "XXX domain harus dienyahkan dalam perdagangan saham, dan saham serupa yang ada, didorong melalui hati sehingga tidak pernah naik lagi"
Patrick Trueman yang terkenal gigih memberantas pornografi, lebih dari sepuluh tahun ini berjuang menghadirkan suatu badan, yang mengatur kehadiran jasa pornografi di internet. Trueman mencatat. "Tidak satu argumen suara pun yang mendukung, peningkatan kebutuhan pornografi dunia di Internet"
Trueman menegaskan, "Apa yang dibutuhkan bukan sebuah domain XXX. Tapi adalah perang terhadap pornografi. Masyarakat harus bahu membahu menghentikan distribusi yang lebih luas.

Dampak - Dampak Utama Pornografi
1. Ancaman untuk tumbuh kembang anak. 
Anak-anak yang memiliki keleluasaan mengakses hardcore porno, akan mengalami proses kecanduan yang bermuara pada acting out. Jika orang dewasa akan menyalurkan kepada pasangannya. Bagi mereka yang tidak punya istri/suami dan juga tidak punya iman, maka akan menyalurkan kepada pelacur sesuai dengan kelas ekonomi masing-masing. Nah bagi anak-anak yang jelas tidak punya pasangan, tidak punya uang dan tidak punya cukup pemikiran, maka satu-satunya jalan yang mereka lihat adalah memperkosa anak-anak lain yang berusia lebih kecil. Jangan heran, seluruh LP Anak kini dipenuhi oleh pelaku tindak kejahatan seksual.
Anak-anak yang yang tersandung pornografi ringanpun, menjadi tidak mudah konsentrasi, dan akibatnya prestasi di sekolah juga menurun.
2. Kekerasan terhadap perempuan.
Menurut penelitian, adegan kekerasan terhadap perempuan sekarang menjadi fitur dalam film hardcore, telah mengembangkan sikap kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan.
3. Kecanduan Seks.
Kecanduan pornografi sekarang telah menjadi sebuah pandemi yang butuh pengobatan serius. Hasil riset di berbagai negara menunjukkan bahwa orang yang kecanduan pornografi, tidak pernah merasa puas dengan apa yang yang mereka lihat dan lakukan seputar masalah seksual. Mereka senantiasa terdorong untuk mengkonsumsi lebih banyak, lebih sering, lebih aneh yang bermuara pada kebiasaan seks yang kian menyimpang.
4. Meningkatnya perdagangan seks.
Pornografi selalu signifikan terhadap peningkatan prostitusi. Di mana pornografi berkembang luas, maka di situ tumbuh subur pula prostitusi dengan leluasa.  Di mana prostitusi tumbuh subur, maka dipastikan kasus trafficking terhadap anak dan perempuan kian meningkat.
Penelitian pada anak-anak yang terlibat dalam seks komersial sangat mengejutkan. Hasil riset menunjukkan bahwa sekitar 250.000 remaja itu terlibat dalam perdagangan manusia. Sejumlah besar wanita dewasa asing dan domestik juga diperdagangkan untuk memenuhi permintaan untuk prostitusi.
Trueman juga mencatat kegagalan pernikahan yang tak terhitung jumlahnya akibat pornografi ini. Ia mencontohkan tren telepon seluler baru yang disebut "sexting" sebagai bukti. "Sexting terutama yang memproduksi dan mendistribusikan pornografi anak, telah menunjukkan perkembangan yang sangat mengkhawatirkan di Amerika”. Ujarnya.
Trueman menambahkan, bahwa dia percaya anak-anak yang terlibat dalam sexting yang mendalam dalam pornografi di internet selama bertahun-tahun, sebelum mereka mulai memproduksi dan mendistribusikannya sendiri. Hambatan moral normal mereka telah hancur”, katanya.
Trueman kini memimpin upaya nasional yang disebut Perang terhadap Illegal Pornografi. Ia merancang gagasan untuk menghadirkan regulasi terhadap pornografi ilegal di negara Federal. Departemen Kehakiman Amerika, selama ini belum menegakkan hukum federal yang melarang penyebaran pornografi hardcore di Internet, di televisi kabel / satelit atau hotel / motel bayar-per-view TV dan di toko-toko ritel.
Dalam kasus Perang terhadap Illegal Pornografi, Trueman dicatat sejalan dengan upaya koalisi  Morality in Media dan memiliki lebih dari 50 lembaga keprihatin nasional dan kelompok-kelompok negara yang terlibat. Sebuah situs web baru bernama Pornografi Harms; http://pornharms.com telah dikembangkan untuk menyediakan penelitian yang paling akurat peer-review terhadap bahaya dari pornografi. "Pendidikan akan dampak pornografi yang menghancurkan itu sangat penting bagi upaya kami untuk mendapatkan undang-undang Federal ditegakkan”, ujar Trueman.
Jika Amerika saja yang negara liberal begitu bersemangat memerangi pornografi, mengapa kita tidak?
(Sumber MIM)

Kamis, 05 Agustus 2010

Data dan Fakta Seputar Rokok

1. Tembakau berada pada peringkat utama penyebab kematian yang dapat dicegah di dunia. Tembakau menyebabkan satu dari 10 kematian orang dewasa di seluruh dunia, dan mengakibatkan 5,4 juta kematian tahun 2006. Ini berarti rata-rata satu kematian setiap 6,5 detik. Kematian pada tahun 2020 akan mendekati dua kali jumlah kematian saat ini jika kebiasaan konsumsi rokok saat ini terus berlanjut.
2. Delapan puluh persen atau  900 juta perokok sedunia hidup di negara-negara berkembang atau transisi ekonomi, termasuk di Indonesia. The Tobacco Atlas mencatat, lebih dari 10 juta batang rokok diisap setiap menit, tiap hari, di seluruh dunia oleh satu miliar laki-laki, dan 250 juta perempuan. Sebanyak 50 persen total konsumsi rokok dunia dimiliki China, Amerika Serikat, Rusia, Jepang dan Indonesia. Bila kondisi ini berlanjut, jumlah total rokok yang dihisap tiap tahun adalah 9.000 triliun rokok pada tahun 2025. 
3. Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), Indonesia menempati urutan ketiga terbanyak jumlah perokok yang mencapai 146.860.000 jiwa (http://www.facebook.com/l/73cb8) Namun, sampai saat ini Indonesia belum mempunyai Peraturan Perundangan untuk melarang anak merokok. Akibat tidak adanya aturan yang tegas. Dalam penelitian di empat kota yaitu Bandung, Padang, Yogyakarta dan Malang pada tahun 2004, prevalensi perokok usia 5-9 tahun meningkat drastis dari 0,6 persen (tahun 1995) jadi 2,8 persen (2004).
4. Peningkatan prevalensi merokok tertinggi berada pada interval usia 15-19 tahun dari 13,7 persen jadi 24,2 persen atau naik 77 persen dari tahun 1995. Menurut Survei Global Tembakau di Kalangan Remaja pada 1.490 murid SMP di Jakarta tahun 1999, terdapat 46,7 persen siswa yang pernah merokok dan 19 persen di antaranya mencoba sebelum usia 10 tahun. “Remaja umumnya mulai merokok di usia remaja awal atau SMP,” kata psikolog dari Fakultas Psikologi UI Dharmayati Utoyo Lubis.
5. Sebanyak 84,8 juta jiwa perokok di Indonesia berpenghasilan kurang dari Rp 20 ribu per hari–upah minimum regional untuk Jakarta sekitar Rp 38 ribu per hari.
6. Perokok di Indonesia 70 persen diantaranya berasal dari kalangan keluarga miskin. ”Rokok memang jurus jitu untuk lebih menyengsarakan orang miskin”
7. Sebesar 12,9 % budget keluarga miskin untuk rokok dan untuk orang kaya hanya sembilan %.
8. Mengutip dana Survei Ekonomi dan Kesehatan Nasional (Susenas), konsumsi rumah tangga miskin untuk tembakau di Indonesia menduduki ranking kedua (12,43 persen) setelah konsumsi beras (19.30 persen). “Ini aneh tatkala masyarakat kian prihatin karena harga bahan pokok naik, justru konsumen rokok kian banyak,”
9. Orang miskin di Indonesia mengalokasikan uangnya untuk rokok pada urutan kedua setelah membeli beras. Mengeluarkan uangnya untuk rokok enam kali lebih penting dari pendidikan dan kesehatan. “Maka signifikanlah rokok dengan upaya pemiskinan dan pembodohan BANGSA”
10. Pemilik perusahaan rokok PT Djarum, termasuk dalam 10 orang terkaya se-Asia Tenggara versi Majalah Forbes. Ia menempati posisi kesepuluh dengan total harta US$ 2,3 miliar, dalam daftar yang dikeluarkan Kamis (8/9/2005). “Orang ini tak malu-malu mereguk kenikmatan hidup atas darah dan penderitaan orang miskin di negeri ini. Masih pantaskah ia disebut orang Indonesia?”.
11. Sekitar 50% penderita kanker paru tidak mengetahui bahwa asap rokok merupakan penyebab penyakitnya. Masihkah kurang bukti bahwa merokok adalah kebiasaan buruk orang-orang yang tidak tertidik?”
12. Dari 12% anak-anak SD yang sudah diteliti pernah merasakan merokok dengan coba-coba. Kurang lebih setengahnya meneruskan kebiasaan merokok ini.
13. Besaran cukai rokok di Indonesia dinilai masih terlalu rendah. Saat ini, besarnya cukai rokok 37 persen dari harga rokok. Bandingkan dengan India (72 persen), Thailand (63 persen), Jepang (61 persen). “Sungguh ironi, bisnis ini telah melejitkan pengusahanya menjadi orang terkaya, tapi kontribusinya terhadap negara begitu rendah…intinya mereka hanya mengisap tenaga dan hasil keringat orang miskin yang tak punya pilihan, dan  TERPAKSA jadi buruh dan antek-antek mereka.”
14. Sebanyak 1.172 orang di Indonesia meninggal setiap hari karena tembakau. “Hmmm cara ampuh untuk membunuh orang miskin dan bodoh ya?”.
15. 100 persen pecandu narkoba merupakan perokok. 
16. Perda DKI Jakarta No 2 Tahun 2005, Pasal 13 ayat 1: Tempat umum, sarana kesehatan, tempat kerja dan tempat yang secara spesifik sebagai tempat proses belajar mengajar, arena kegiatan anak, tempat ibadah dan angkutan umum dinyatakan sebagai kawasan dilarang merokok. — Pelanggarnya diancam dengan sanksi pidana berupa denda maksimum Rp 50 juta, atau 6 bulan kurungan. Kenyataannya, Perda ini seperti dianggap tidak ada oleh perokok, dan pemerintah pun tidak tegas dalam menjalankannya. ”Tidak tegaknya hukum jangan dijadikan alasan untuk meniadakan regulasi, KARENA ITU 2 HAL yang BERBEDA”

Saudaraku,
Meningkatnya kesadaran akan  kesehatan, dan nilai-nilai agama, seirama dengan gerak serempak berbagai kalangan intelektual untuk mengkaji secara ilmiah termasuk hukum fikih Islam, telah melahirkan GERAKAN INTELEKTUAL BARU, untuk mengkampanyekan GERAKAN ANTI ROKOK, yang berimbas dengan kian kerasnya desakan untuk lahirnya regulasi seputar rokok, yang mau tak mau telah membuat kalangan industri rokok  belingsatan dan merasa kian terjepit.
Bak kebakaran jenggot, mereka melakukan serangkaian balasan, baik berupa promosi vulgar yang tak ada muatan intelektual sedikitpun, hingga aksi gerakan bawah tanah yang terkesan sedikit ‘elegan’.  
Karena rokok merupakan bisnis besar (lihat data no 10) tidak aneh jika mereka kini juga gencar MENGKAMPANYEKAN ROKOK dengan modus bedah buku. Buku-buku yang dibedah jelas merupakan buku yang berisi data yang menyesatkan dan menjungkir balikkan akal sehat. Roadshow Kampanye MEROKOK juga mereka balut dengan HATI NURANI. Seolah-olah rokok menyelamatkan orang miskin, terutama petani tembakau. Namun tahukah anda bahwa cukai yang diperoleh negara dari rokok HANYA  Rp 16,5T, sementara KERUGIAN negara yang disebabkan rokok 7,7 kali lipatnya, yakni Rp 127,7T. (data KPA 2001)
HANYA ORANG BODOH dan ORANG-ORANG YANG TELAH TERTUTUP MATA HATINYA yang percaya bahwa rokok adalah bagian GAYA HIDUP orang berkelas dan ANAK MUDA GAUL.
Jika anda masih membangkang, maka “Silakan merokok dan bunuhlah diri anda sendiri, tetapi jangan kami dan orang-orang sekeliling yang anda PAKSA  menghisap asap rokok durjana  anda“.
 (JH. Isabel 2010)